Laman

Tampilkan postingan dengan label Teknik Elektro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknik Elektro. Tampilkan semua postingan

02 Maret 2016

PSIM, Electronic Workbench dan Matlab

Teknik elektro tidak bisa dipisahkan dari beberapa software ini (pada judul diatas). Baik kosentrasi arus kuat maupun arus lemah. Disini saya akan sedikit menjelaskan sedikit pengetahuan tentang software diatas.
PSIM
Mungkin bisa disebut power simulator, aplikasi ini lebih cocok digunakan untuk bidang elektronika daya. Seperti untuk membuat desain dc chopper, inverter atau power faktor correction. Apakah software yang lain tidak bisa?. Software lain juga bisa, akan tetapi jika anda menggunakan frekunsi sampling yang tinggi pada software lain akan membuat software menjadi hang/layar beku/freeze.
Electronic workbench.
Software ini adalah software untuk simulasi rangkaian yang simpel. Oleh karena itu ukurannya kecil, meskipun demikian hasil simulasi cukup akurat jika dibandingkan dengan perhitungan manual.
Matlab
Saya lebih suka menyebut matlab sebagai kalkulator. Untuk simulasi, menggunakan simulink yang merupakan produk dari matlab. Akan tetapi saya masih agak ragu pada hasil deret fourier pada simulink yang dulu pernah saya bandingkan dengan hasil perhitungan dan ternyata beda. Apa mungkin pada matlab-simulink ada faktor distorsi yang dimasukkan. Sampai akhirnya saya beralih menggunakan software Pspice.
Untuk sementara software itu dulu, lain kali kalo ada kesempatan akan saya tambah.

Sumber: Pengalaman Pribadi

01 Juni 2013

Membuat Kompor Surya atau Solar Cooker




Di indonesia merupakan area tropis yang mempunyai kelebihan musim panas yang bisa didapatkan secara gratis selama 6 bulan. Kita tidak menyadari bahwa ada energi panas yang telah kita lewatkan selain untuk membangkitkan energi listrik. Kita bisa menggunakan energi primer (panas) ini secara langsung, yaitu sebagai kompor. Berikut saya akan membagi tips untuk membuat kompor surya. Sumbernya saya ambil dari SOLAR COOKERS How to make, use and enjoy edisi yang kesepuluh, anda bisa mendapatkanya gratis dari internet, misal tidak ada, anda bisa menghubungi saya melalui komentar posting atau link contact yang ada di web ini.

Alat dan Bahan.


 Proses Pembuatan Kompor Surya.
Lem yang digunakan adalah lem kayu/kertas, sehingga dibutuhkan pemberat untuk menekan secara maksimal.

Hasil Pengukuran
Pengujian menggunakan panci yang dicat hitam agar cahaya yang mengenai panci tidak terpantulkan, sehingga panci dapat menyerap panas dari sinar matahari dengan maksimal.



Thermometer menunjukkan 40 derajat celcius.


Hari/Tanggal        : Rabu, 22 Mei 2013
Waktu                  : pukul 13.16 WIB
No.
Rentang Pengukuran
Suhu ()
1
Menit ke-0
27
2
Menit ke-10
30
3
Menit ke-20
33
4
Menit ke-30
34
5
Menit ke-40
36
6
Menit ke-50
40
7
Menit ke-60
43

Dikarenakan mendung, maka pengukuran dihentikan. Kondisi pada saat pengukuran intensitas cahaya matahari memang tidak cukup banyak.

17 Maret 2013

Power Faktor pada sistem DC



Pada saat diskusi dengan teman saya tentang active pfc, teman mengatakan: emang ada gak sih power factor tertinggal pada sinyal DC ? Setelah saya cari beberapa referensi dan mempertimbangkan ketika melakukan di lab. ternyata memang ada tentunya.

Kebanyakan pemahaman orang tentang penyebab power factor adalah tegangan beban tertinggal/mendahului dengan tegangan sumber. Padahal lebih detail lagi sebenarnya penyebab power factor adalah beda fasa antara arus dan tegangan sumber. Gambaran sistemnya seperti pada gambar pertama diatas, untuk gambar kedua adalah gambar beda fasanya.

Dari penyebab tersebut maka pada DC pun bisa terjadi tertinggalnya power factor. Apapun hal yang membuat sudut fasa tegangan dan arus berbeda itu akan membuat power factor menjadi tertinggal.

06 Oktober 2012

Membuat Ybus (Analisis sistem Tenaga/Analisis sistem Daya)

Berikut adalah syntag dari Ybus menggunakan Matlab, anda cukup mengganti data jaringan kemudian meRun-nya. semoga membantu.


    %       |  Dari |  Ke   |   R   |   X   |
datajaringan = [ 1      2       0.02    0.04   
                         1      3       0.01    0.03      
                         2      3       0.0125  0.025;];   
           
            
%memanggil data perkolom
dari = datajaringan(:,1);   
ke = datajaringan(:,2);   
r = datajaringan(:,3);    
x = datajaringan(:,4);   
z = r + i*x;          
y = 1./z;    

baris = length(dari); 
jumlahbus = max(max(dari),max(ke));  %mencari jumlah bus di jaringan
ybus = zeros(jumlahbus,jumlahbus);   %membuat bus nol

 for k=1:baris
     ybus(dari(k),ke(k)) = -y(k);
     ybus(ke(k),dari(k)) = ybus(dari(k),ke(k));
 end


 for m=1:jumlahbus
     for n=1:baris
         if dari(n) == m | ke(n) == m %menggunakan operator or untuk mengumpulkan bus Yii
             ybus(m,m) = ybus(m,m) + y(n) ;
         end
     end
 end
 ybus;                

15 Agustus 2012

Why Current dominated


In the measurement, so many parameter that we measure, such as current, voltage, resistance and the other.
Why must the current who dominated the condition? the meaning of "dominate the condition" is if there are 2 condition, like ripple voltage of inductor, there are 2 kind of signal, they are voltage and current (although actually in all things that contain the signal will have both). It happen because the current in the inductor always lagging from the voltage.

So, when we found the condition like above, firstly we must consider the existing of current. It happened because in the circuit, the energy who have the assignment to connected circuit is the current. i conclude this, i take from the event of SCR when the SCR have been turned off by "natural commutation/Line Commutation" in the inductif load.

That is very short article, but i hopefully usefull.

18 Mei 2012

Mengapa Kapasitor bisa menyimpan tegangan

 Kapasitor adalah salah satu komponen pada bidang elektronika.  Dan kita ketahui bahwa kapasitor sebenarnya mengalirkan tegangan yang berfrekuensi, lebih detail lagi adalah mengalirkan tenaga yang muatannya berubah ubah. Terus mengapa pada kapasitor jika di aliri arus DC kapasitor tersebut bisa terisi tegangan? Sedangkan konsepnya adalah kapasitor tidak akan mengalirkan arus yang tidak mempunyai frekuensi atau f=0.

Untuk membahas konsep ini, setidaknya kita harus tahu bahwa kapasitor itu hanya mengalirkan tenaga/electron yang berubah ubah saja. Kalau dalam rumus matematika di  representasikan lewat turunan  Di/Dt. Dari sini kita bisa mengetahui kenapa juga si kapasitor itu mengalirkan tenaga yang mempunyai frekuensi. Karena frekuensi adalah sesuatu yang berubah ubah, dalam tenaga berarti tenaga yang berubah ubah atau electron yang berubah ubah. Pada tegangan DC arus yang berubah ubah tadi hanya ada pada saat transien, saat transient adalah pada saat pertama kali benda dicatu oleh tegangan, yaitu pada saat perpindahan tenaga dari tenaga nol/tanpa tenaga ke tenaga beberapa volt. Pada saat itulah terjadi perubahan muatan pada kapasitor sehingga menyebabkan pada saat yang singkat kapasitor akan mengalirkan arus dan terjadi pengisian tegangan sebelum tegangan mencapai tegangan tunak atau tetap.
Semoga bermanfaat,.

11 Januari 2012

Tanggapan frekuensi alamiah


Pernah liat di kalkulator yang ada huruf e nya ?
Itu adalah lambang dari alamiah. Bilangan ini dalam kenyatannya yang dipengaruhi oleh resistansi dan reaktansi. Pada rangkaian listrik, ada istilah s yang artinya adalah frekuensi yang dipengaruhii oleh R dan X.
R adalah nyata
X adalah imajiner
Imajiner yang di maksud adalah frekuensi yang masuk di dalam rangkaian. Kalau dalam radian, biasanya, wt (baca: omega t)
misal:
 s= 2 + j3
berarti yang nyata adalah 2, dan tanggapan frekuensinya adalah 3 atau frekuensi yang diinputkan ke rangkaian adalah 3 radian/second, di bentuk lain (dalam bentuk arus) bentuk s diatas menjadi,

i=i0 e^-2t cos (3+teta)

*perlu diketahui bahwa i0 dan teta adalah dua konstanta yang harus ditentukan berdasarkan keadaan awal rangkaian tersebut.
*dasar dari rumus diatas adalah dari persamaan alamiah yang diturunkan dengan rumus euler.

Didalam perhitungan yang benar nilai 2 pasti akan menjadi minus, mengapa demikian?
karena di dalam rangkaian tanpa sumber nilai alamiah pasti akan mengalami redaman, yang dilambangkan dengan eksponensial pangkat minus, yang berarti sinyal tanpa sumber pasti akan mengalami pelemahan.

semoga membantu.

05 Januari 2012

DC chopper



Menghitung efisiensi DC chopper.
Untuk menghitung efisiensi rumusnya adalah
Pout/Pin
Pin = I.V
Pin adalah daya masukan pada chopper.
Karena disini kita menghitung efisiensi DC chopper maka arusnya adalah tegangan jatuh DC chopper dibagi beban.
Mengapa dibagi beban, karena arus adalah tergantung dengan beban.
Sehingga rumus sederhananya adalah
Pin= I.Vsumber
Atau
Pin=V jatuh chopper/R beban X (Vsumber)
Pertanyaannya adalah mengapa arus yang digunakan itu arus yang dichopper.
Jawabannya adalah tidak mungkin menggunakan arus yang disumber, karena arus yang disumber adalah arus asal, dan arus yang digunakan adalah tergantung pada beban, dan pastinya adalah arus yang diserap beban.
Semoga membantu.

03 Desember 2011

Q-METER

Q-METER
I. TUJUAN
1. Untuk mengetahui penggunaan dan pengoperasian Q-Meter
2. Untuk mengetahui perbedaan nilai komponen yang telah tertera dengan pengukuran dengan menggunakan Q-Meter
3. Mengetahui besarnya kualitas harga daripada komponen
4. Mengetahui harga sesungguhya dari suatu komponen sehingga didapatkan suatu harga komponen yang akurasi
II. TEORI DASAR
Alat ukur Q-Meter adalah sebuah instrumen yang dirancang guna mengukur bebrapa
sifat listrik dari kumparan dan kapasitor. Bekerjanya instrumen laboratorium yang sangat bermanfaat ini didasarkan pada karakteristik sebuah rangkaian resonansi seri yang telah dikenal yakni bahwa tegangan pada kumparan atau kapasitor sama dengan tegangan yang dimasukkan dikalikan dengan Q rangkaian itu. Jika sebuah tegangan yang nilainya tetap dimasukkan ke rangkaian, sebuah voltmeter yang dihubungkan ke kapasitor dapat dikalibrasi agar langsung menunjukkan.
Hubungan tegangan dengan arus dari sebuah rangkaian resonansi seri ditunjukkan pada gambar ini :

Sehingga syarat-syarat pada saat resonansi :
XC = XL
EC = IXC = IXL
E = IR
Dimana :
E= teganagan yang dimasukkan
I = arus rangkaian
EC = tegangan pada kapasitor
XC = eaktansi kapasitif
XL = reaktansi induktif
R = tahanan kumparan
Menurut definisi, penguatan rangkaian adalah Q, dimana :
Q = KL/R = XC/R = EC/E
Berarti jika E dipertahankan konstan dan levelnya diketahui, sebuah voltmeter yang dihubungkan pada kapasitor dapat dikalibrasi langsung dalamQ rangkaian.
Sedangkan rangkaian dasar alat ukur Q ditunjukkan pada gambar di bawah ini :
Pada gambar di atas dapat dijelaskan bahwa rangkaian tersebut memiliki osilator dengan rangkuman frekuensi dari 10 KHz sampai 50 MHz menyalurkan arus ke sebuah tahanan shunt RSH yang nilainya rendah. Nilai shunt ini sangat rendah, khasnya dalam orde 0,02 Ω. Dia memberikan tahanan yang hampir sama dengan nol ke dalam rangkaian osilator dan berarti dia menyatakan sebuah sumber tegangan yang besarnya E dengan tahanan dalam yang sangat kecil ( dalam kebanyakan hal diabaikan ). Tegangan E pada shunt, berhubungan dengan E pada gambar 1, diukur dengan alat ukur termokopel yang diberi tanda “kalikan Q dengan” (‘multiplied Q by’). Tegangan pada kapasitor variable berkaitan dengan EC pada gambar 1, diukur dengan sebuah voltmeter elektronik yang skalanya dikalibrasi langsung dalam nilai-nilai Q.
Guna melakukan suatu pengukuran kumparan tidak diketahui dapat dihubungkan rangkaian ke resonansi dengan menyetel osilator pda suatu frekuensi tertentu dan mengubah-ubah kapsitor penerima internal ataupun dengan menyetel sebelumnya kapasitor pada suatu nilai yang di inginkan dan mengatur frekuensi osilator. Pembacaan Q pada saat pencatat harus di kalikan dengan indeks yang di setel dari”kalikan Q dengan”guna mendapatkan nilai Q actual.
Q yang ditunjukan(yang merupakan pembacaan resonan pada alat ukur resonan pada rangkaian alat ukur Q rangkaian)di sebut Q rangkain sebab kerugian kapasitor penggetar,voltmeter,dan tahanan sisipan semuanya termasuk di dalam rangkaian pengukiran. Q effektif dari kumparan yang di ukur akan menjadi sedikit lebih besar dari Q yang di tunjukkan. Umumnya perbedaan ini dapat di abaikan, kecuali dalam hal-hal tertentu di mana tahanan kumparan relative kecil di bandingkan terhadap nilai sisipan. Induktansi kumparan dapat di tentukan dari nilai-nilai frekuensi (f)yang di ketahui dan kapasitansi penggetar(C) karena
XL = Xc dan L=1/(2f)2 C
Sedangkan pengukuran komponen-komponen yang tidak diketahui nilainya mempunyai tiga metoda, adapun metoda itu adalah :
1. Hubungan Langsung
Kebanyakan kumparan dapat dihubungkan langsung ke terminal uji, persis seperti yang ditunjukkan dalam gambar 1, yaitu dengan menghubungkan langsung komponen yang akan diukur dengan terminal coil yang ada pada Q-Meter. Kemudian rangkaian dibuat beresonansi dengan mengatur tombol L/C yang dapat diputar dan juga mengatu salah satu frekuensi




osilator dengan dengan mengaturtombol FREQUENCY pada posisi “L” atau dengan kapasitor penggetar Q yang ditunjukkan , dibaca langsung pada alat ukur “Q rangkaian”, dimodifikasi dengan menyetel “kalikan dengan” pada alat ukur. Bila terakhir alat ukur disetel pada tanda kesatuan, alat ukur “Q rangkaian” membaca langsung nilai Q yang tepat. Sedangkan gambar rangkaian hubungan langsungnya adalah sebagai berikut :
2. Sambungan Seri
Metoda ini digunakan untuk komponen-komponen dengan impedansi rendah seperti kumparan kecil dan kapasitor besar, diukur secara seri dengan rangkaian pengukuran. Gambar di bawah ini menunjukkan sambungan tersebut :
Pada gambar di atas komponen yang akan diukur ditunjukkan oleh Z, dihubungkan seri dengan sebuah kumparan kerja yang stabil pada terminal uji (kumparan kerja biasanya disuplai bersama instrument). Dua pengukuran dilakukan dalam pengukuran pertama, yang tidak diketahui dihubung singkatkan oleh sebuah sabuk hubung singkat (shorting strap) kecil dan rangkaian dibuat resonansi guna menetapkan suatu kondisi referensi. Nilai kapasitor penyetelan (C1) dan Q yang ditunjukkan (Q1) dicatat. Dalam pengukuran kedua sabuk hubung singkat dilepas dan rangkaian disetalakan kembali, memberikan suatu nilai baru bagi kapasitor penyetelan (C2) dan perubahan nilai Q dari Q1 menjadi Q2. Untuk kondisi referensi
:


Xc1 = XL atau 1C1 = L
3. Sambungan Paralel
Pengukuran ini diperuntukkan komponen-komponen berimpedansi tinggi seperti tahanan-tahanan bernilai tinggi, induktor tertentu dan kapasitor kecil, diukur dengan menghubungkan secara parallel terhadap rangkaian pengukuran seperti rangkaian dibawah ini :
Pada rangkaian tersebut sebelum dihubungkan ke komponen yang tidak diketahui resonansi dengan menggunakan sebuah kumparan kerja yang sesuai, yaitu dengan meletakkan kumparan itu pada HI and LO terminal, guna menetapkan nilai-nilai referensi bagi Q dan C (Q1 dan C1). Selanjutnya bila komponen yang diuji dihubungkan ke rangkaian kapasitor diatur kembali agar beresonansi, sehingga diperoleh suatu nilai baru bagi kapasitor penyetalaan (C2) dan perubahan nilai Q rangkaian (Q) dari Q1 dan Q2.

III. ALAT DAN BAHAN
· Q Meter 1 Buah
· Kapasitor 150 pF 1 Buah
· Kapasiotor 8 pF 1 Buah
· Kapasitor 1 pF 1 Buah
· Induktor 150 H 1 Buah
· Induktor lilitan sendiri 1 Buah
· Induktor 223 H 1 Buah
·
IV. LANGKAH PERCOBAAN
Pada percobaan kali ini kami membedakannya menjadi dua percobaan, yaitu pengukuran induktor (L) dengan metoda hubungan langsung dan kapasitor (C) dengan metoda sambungan paralel. Adapun penjelasannya dan datanya adlah sebagai berikut :
A. Pengukuran Induktor dengan Metoda Hubungan Langsung
Pada pengukuran langsung ini kita akan mengukur nilai lindoktor/lilitan, dimana pada percobaan kali ini kita bagi menjadi dua, yaitu :
1. Menggunakan Frekuensi yang Spesifik pada Induktor
Sebuah induktor dapat diukur secar metode langsung yaitu :
· Hubungkan induktor yang akan diukur pada terminal pengukuran
· Jika harga komponen dapat dikira-kira maka pilihlah range frekuensi yang kira cocok, dengan menekan tombol FREQUENCY RANGE
· Atur tombol putar FREQUENCY pada skala frekuensi L yang telah tertera pada daerah frekuensi dengan warna biru
· Aturlah Q/ Q pada range 100, lalu putarlah tombol cakram L/C sampai jarum pada skala Q-Meter menunjukkan simpangan maksimum. Jika pada layar skala Q-Meter tidak terdapat suatu penyimpangan maka gantilah frekuensinya dengan menekan tombol RANGE FREQUNCY.
· Aturlah tombol Q pada posisi skala nol (0 pF)
· Baca skala pada skala L sesuai dengan harga yang ditunjukkan pada pointer tetap, setelah itu untuk menghitung harga induktor tersebut kalikan hasil pembacaan tersebut dengan factor skala pada INDUCTOR RANGE
2. Menggunakan Frekuensi Tertentu (tanpa L)
· Hubungkan induktor yang tidak diketahui nilainya pada terminal pengukuran dan resonansikan induktor itu dengan menggunakan cara yang sama pada langkah-langkah diatas (pada penggunaan frekuensi L)
· Aturlah frekuensinya dengan menekan tombol RANGE FREQUENCY, setelah itu atur frekuensinya dengan menggunakan tombol cakram FREQUENCY, dengan catatan pada pengaturan frekuensi ini tidak boleh memilih L frekuensi
· Setelah ada simpangan maksimum pada skala Q-Meter maka bacalah nilai yang ada pada layar L(H) dan kalikan dengan faktor induktor yang telah dipilih sesuai dengan pemilih frekuensinya
B. Pengukuran nilai kapasitor dengan metode sambungan paralel
Pada pengukuran metode ini kami menggunakannya untuk mengukur harga kapasitor, dimana langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
· Pilih sebuah induktor referensi yang diresonansikan/dipasang pada fekuensi tertentu kemudian letakkan pada terminal pengukuran
· Setelah itu pilih frekuensi resonansi dengan menekan tombol RANGE FEQUENCY
· Aturlah tombol cakram L/C untuk menentukan simpangan maksimum dari skala Q-Meter
· Setelah simpangannya ditentukan baca harga kapasitansi yang ada pada papan skala diatas tombol cakram L/C, kemudian catat harga kapasitansinya tersebut untuk harga ini kita beri nama C1
· Kemudian pasang secara paralel pada terminal pengukuran induktor dan kapasitor. Setelah terpasang, maka aturlah tombol cakram L/C untuk menentukan harga simpangan maksimum pada papan skala Q-Meter
· Baca harga kapsitansinya yang ditunjukkan pada papan skala diatas tombol cakram L/C. Catat harga tersebut dan beri nama C2
· Kemudian cari harga kapasitor dengan cara mengurangi kedua harga kapasitor yang telah ditentukan sebelumnya, yaitu C1 dan C2 dengan catatan harga kapsitansi yang kecil, tidak peduli apakah harga terbesar adalah nilai dari C1 atau C2, dari sinilah maka akan terukur harga kapsitansinya yang sesungguhnya
V. DATA HASIL PERCOBAAN
















VI.KESIMPULAN
- Dari data diatas dapat diambil kesimpulan bahwa :
Semakin besar nilai induktor semakin lebar Bandwidth.
Semakin besar limit yang digunakan semakin besar nilai induktansi.
VII.LAMPIRAN
Pada lampiran kali ini akan kami jelaskan fungsi masing-masing tombol yang terdapat pada Q-Meter baik pada bagian depan maupun pada bagian belakang :
A. Bagian Depan
1. LINE PUSH ON/OFF berfungsi sebagai tombol untuk menghidupkan (mengaktifkan) Q-Meter
2. FREQUENCY RANGE berfungsi sebagai tombol untuk memilih daerah frekuensi pengukuran yang diinginkan. Pada Q-Meter ini mempunyai rangkuman frekuensi dari 22 KHz sampai 70 MHz
3. FREQUENCY DIAL CONTROL berfungsi untuk memungkinkan kita untuk mengatur berbagai macam frekuensi yang kita butuhkan. Pembacaan frekuensi yang kita atur dapat kita lihat pada keterangan no.6
4. Q LIMIT CONTROL berfungsi untuk pengetesan batas terkecil dari harga Q untuk fungsi Go/No-Go Checks. Pengetesan batas ukur Q berhubungan dengan penyimpangan jarum Q (dinyatakan dalam % dari skala penuh)
5. FREQUENCY MULTIPLIER INDICATOR berfungsi sebagai petunjuk pengali pada frekuensi yang ditunjukkan oleh papan skala frekuensi (no.6)
6. FREQUENCY SCALE berfungsi untuk menunjukkan frekuensi yang kita pilih dari tombol FREQUENCY RANGE
7. OVER LIMIT DISPLAY berfungsi untuk mengetahui apakah harga Q yang tertera melampaui batas atau tidak pada papan skala Q-Meter (pada pengaturan tombol n0.4)
8. MEASURAMENT TERMINALS berfungsi untuk menempatkan komponen yang akan diukur harganya
9. Q METER berfungsi untuk menunjukkan harga Q apabila kita mengukur harga suatu komponen
10. METER POINTER ADJUSMENT berfungsi untuk menentukan pengalilbrasian jarum penunjuk Q meter. Agar jarum tersebut selalu tepat pada titk mulai (dalam hal ini titik nol)
11. Q ZERO CONTROL berfungsi untuk mengatur secara teliti panel cakram Q
12. L SCALE berfungsi untuk menunjukkan harga induktansi apabila pada papan skala Q-Meter telah tercapai simpangan maksimum atau pada saat mengukur induktor yang terletak pada tombol frekuensi
13. C SCALE berfungsi untuk menunjukkan skala C
14. C SCALE berfungsi untuk menunjukkan harga kapasitansi apabila pada skala Q-Meter terdapat penyimpanan maksimum atau pada saat pengukuran kapasitor
15. C DIAL CONTROL berfungsi sebagai pengaturan C (pada pengukuran ini C diletakkan pada posisi nol (0))
16. L/C DIAL CONTROL berfungsi untuk mengatur L dan C untuk mendapatkan simpangan maksimum pada pengukuran baik induktor maupun kapasitor
17. Q/C RANGE berfungsi untuk mengatur skala pengukuran yang tertera pada papan skala Q-Meter
B. Bagian Belakang
18. METER ZERO ADJ berfungsi untuk mengatur pengetesan nol fungsi pada pointer nol secara listrik sehingga pada saat dihidupkan tept menunjukkan nol
19. FUSE berfungsi untuk mengatur pengetesan nol fungsi pada pointer nol secara fisik ehingga pada saat dihidupkan tepat menunjukkan nol
20. VOLTAGE SELECTOR berfungsi untuk memilih tegangan jala-jala yang diinginkan (dalam hal ini 115 volt dan 230 volt ± 10%
21. LINE RECEPTACLE berfungsi untuk menempatkan kabel power dari Q-Meter ke jala-jala listrik
22. OVER LIMIT DISPLAY TIME berfungsi untuk memilih waktu untuk fungsi Go/No-Go yaitu satu(1) detik atau terus menerus
23. MEASUREMENT TERMINAL berfungsi untuk menempatkan komponen yang akan diukur

sumber: Modul kuliah + Data praktikum kuliah